BRI

BRI Turunkan Suku Bunga PNM Mekaar hingga 5%

BRI Mengambil Langkah Strategis Yang Di Anggap Bersejarah Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berpenghasilan Rendah Di Indonesia. Dalam acara bertajuk Kolaborasi Program Pembiayaan Perumahan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat yang di gelar di Sumedang, Jawa Barat, Jumat (13/2/2026), BRI Group resmi mengumumkan penurunan suku bunga pembiayaan untuk program PNM Mekaar hingga 5 persen. Ini menjadi kali pertama dalam kurun lebih dari sepuluh tahun bunga Mekaar mengalami penyesuaian signifikan.

PNM Mekaar sendiri adalah salah satu layanan pembiayaan kelompok yang di selenggarakan oleh Pemodalan Nasional Madani (PNM) untuk mendukung perempuan pelaku usaha ultra mikro di seluruh Indonesia. Program ini di kenal luas sebagai bagian dari upaya pemerintah dan sektor keuangan untuk mendorong inklusi ekonomi. Terutama bagi mereka yang tidak mudah mengakses kredit formal.

Direktur Corporate Banking BRI, Riko Tasmaya, menyatakan bahwa penurunan suku bunga Mekaar dari sebelumnya 25 persen menjadi 20 persen per tahun merupakan kebijakan yang sangat strategis dan berdampak luas. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya menjadi penanda dukungan BRI terhadap pelaku usaha mikro. Tetapi juga langkah konkret dalam memperkuat ekonomi keluarga di tingkat akar rumput yang selama ini menghadapi beban bunga yang tinggi.

Riko menekankan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada nasabah ultra mikro. Serta merupakan respons terhadap tantangan praktik kredit informal yang kerap membebani masyarakat dengan bunga tinggi, terutama dari pinjaman online yang tidak sehat BRI.

BRI Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Ekonomi Inklusif

Acara di Sumedang itu bukan sekadar pengumuman suku bunga, tetapi menjadi momen sinergi antara BRI. Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), BP Tapera, PNM, dan SMF untuk menggabungkan berbagai pendekatan dalam pemberdayaan rakyat. Selain penurunan bunga, di acara itu juga di bahas upaya memperluas akses pembiayaan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, Melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Kredit Program Perumahan (KPP).

Di lansir dari beberapa media lain, program pembiayaan inklusif ini juga selaras dengan upaya mencapai target pemerintah. Termasuk Asta Cita dan target pembangunan 3 juta rumah layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah di seluruh Indonesia. Skema pembiayaan ini di rancang agar masyarakat dapat mengakses hunian yang layak tanpa terbebani bunga tinggi, sekaligus mendapatkan modal kerja untuk usaha mereka.

Respons Pemerintah dan Dukungan Moral

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, hadir dalam kesempatan itu dan memberikan apresiasi atas langkah yang di ambil BRI. Ia menyampaikan bahwa penurunan bunga ini merupakan solusi nyata di tengah kebutuhan masyarakat. Ia bahkan membantu sejumlah nasabah Mekaar dengan memberikan modal usaha secara pribadi untuk mendukung kelangsungan usaha mereka. Pernyataan Maruarar menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan dunia perbankan memberikan dampak positif langsung bagi kehidupan masyarakat kecil.

Menurut Maruarar, kebijakan suku bunga yang lebih rendah membantu keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok. Menjalankan usaha secara lebih efektif, serta menjaga ketahanan ekonomi keluarga dalam jangka panjang. Ia menegaskan bahwa langkah ini memberikan alternatif pembiayaan yang lebih murah. Dan mudah di banding kredit informal yang sering menjerat masyarakat kecil.

Implikasi dan Harapan Ke Depan

Penurunan suku bunga PNM Mekaar ini dipandang sebagai momentum penting dalam pemberdayaan ekonomi rakyat. Terutama untuk kelompok pelaku usaha mikro yang selama ini bergantung pada modal kecil dengan bunga tinggi. Dengan bunga yang lebih ringan, di harapkan daya beli masyarakat meningkat, usaha mikro dapat berkembang lebih cepat. Dan ekonomi lokal menjadi lebih produktif.

BRI menyatakan bahwa komitmennya untuk meningkatkan perekonomian rakyat akan terus berlanjut melalui berbagai inovasi pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan. Penurunan suku bunga PNM Mekaar ini menjadi salah satu tonggak sejarah untuk memacu pertumbuhan ekonomi dari bawah, mengurangi ketimpangan akses pembiayaan, dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di seluruh Indonesia.