
Sekolah Tanpa PR Mulai Diuji Coba Di 10 Kota: Efektifkah
Sekolah Tanpa PR mennurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mulai menguji coba kebijakan sekolah tanpa pekerjaan rumah (PR) di 10 kota besar di Indonesia. Program ini di luncurkan sebagai bagian dari upaya untuk meninjau kembali efektivitas metode pembelajaran tradisional yang selama ini membebani siswa di luar jam sekolah. Kota-kota yang terlibat dalam uji coba ini mencakup Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Medan, Denpasar, Balikpapan, Pontianak, dan Jayapura.
Dalam uji coba ini, 5 sekolah dasar dan 5 sekolah menengah pertama di tiap kota di tunjuk sebagai percontohan. Sekolah-sekolah tersebut dipilih berdasarkan kesiapan infrastruktur, kualitas tenaga pendidik, serta minat partisipasi kepala sekolah dan orang tua siswa. Program ini akan berlangsung selama satu tahun ajaran penuh dan di awasi langsung oleh tim evaluasi dari Kemendikbudristek serta pihak universitas mitra.
Menurut Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Dr. Maya Kartika, kebijakan ini bertujuan mendorong keseimbangan antara belajar dan kehidupan pribadi siswa. “PR sering kali menjadi sumber stres yang tak perlu. Kami ingin melihat apakah tanpa PR, siswa tetap bisa mencapai hasil belajar yang optimal dengan metode yang lebih menyenangkan,” ujar Dr. Maya dalam konferensi pers, awal Mei lalu.
Sekolah Tanpa PR dengan beragam respon dari masyarakat, evaluasi mendalam akan menjadi bagian penting dari program ini. Dalam enam bulan pertama, Kemendikbudristek berencana merilis laporan awal mengenai hasil sementara dari uji coba ini, baik dari segi akademik, psikologis, maupun sosial siswa. Laporan akhir akan disampaikan tahun depan untuk menentukan apakah model sekolah tanpa PR layak di terapkan secara nasional.
Alasan Di Balik Kebijakan: Mengapa Sekolah Tanpa PR Dipertanyakan
Alasan Di Balik Kebijakan: Mengapa Sekolah Tanpa PR Dipertanyakan tidak muncul begitu saja. Sejumlah penelitian, baik nasional maupun internasional, telah memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pekerjaan rumah dalam meningkatkan hasil belajar. Salah satu studi dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa waktu belajar yang terlalu panjang tidak selalu berkorelasi dengan pencapaian akademik yang lebih baik. Sebaliknya, tekanan akademik yang tinggi dapat berdampak negatif pada kesehatan mental siswa.
Di Indonesia sendiri, data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan gangguan kecemasan dan stres pada anak usia sekolah selama lima tahun terakhir. Banyak ahli pendidikan menghubungkan hal ini dengan beban tugas sekolah yang berlebihan, termasuk PR yang harus di selesaikan di rumah. PR sering kali mengganggu waktu istirahat, waktu bermain, bahkan kualitas hubungan keluarga.
Dr. Yuni Rahardjo, psikolog anak dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa konsep PR perlu di tinjau ulang. “Jika PR di berikan dengan volume terlalu besar dan tanpa konteks yang menarik, anak cenderung mengerjakannya secara terpaksa. Ini bisa menciptakan kebencian terhadap proses belajar, bukan cinta belajar,” katanya. Ia menambahkan bahwa pembelajaran yang bermakna lebih penting daripada sekadar menyelesaikan lembar kerja.
Kebijakan ini juga di ilhami oleh model pendidikan di Finlandia, negara yang dikenal memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Di sana, anak-anak hanya menghabiskan beberapa jam di sekolah tanpa PR yang membebani. Mereka di beri kebebasan untuk bermain, mengeksplorasi, dan membangun hubungan sosial di luar jam pelajaran. Model tersebut terbukti mampu menghasilkan siswa yang tak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara mental dan sosial.
Selain itu, pandemi COVID-19 turut membuka mata banyak pihak tentang fleksibilitas belajar. Ketika belajar dari rumah, anak-anak di tuntut mengatur waktu sendiri tanpa kontrol guru. Meskipun tidak ideal bagi semua siswa, banyak pendidik dan orang tua menyadari bahwa belajar tak harus terjadi dalam format konvensional, termasuk ketergantungan pada PR.
Respon Guru Dan Orang Tua: Antara Optimisme Dan Kekhawatiran
Respon Guru Dan Orang Tua: Antara Optimisme Dan Kekhawatiran menunjukkan spektrum yang luas. Para guru, sebagai ujung tombak pelaksanaan kebijakan, memiliki pandangan beragam. Sebagian menyambut baik gagasan ini karena di nilai sejalan dengan upaya pembelajaran yang lebih aktif dan menyenangkan. Namun, tidak sedikit pula yang merasa khawatir dengan kemungkinan penurunan disiplin belajar di rumah.
Budi Hartono, guru kelas 6 di SDN 01 Jakarta, mengatakan bahwa tanpa PR, ia harus lebih kreatif dalam merancang kegiatan pembelajaran di kelas agar siswa benar-benar memahami materi. “Kami tidak bisa hanya mengandalkan ceramah. Harus lebih banyak diskusi, praktik langsung, atau permainan edukatif agar anak tetap terlibat,” ungkapnya. Menurutnya, ini memberi tantangan baru yang menarik bagi guru untuk mengembangkan metode belajar inovatif.
Namun, ada juga guru yang merasa terbebani dengan perubahan ini. Beberapa di antaranya mengaku kesulitan memantau pemahaman siswa secara menyeluruh jika tidak ada tindak lanjut dalam bentuk latihan di rumah. “PR sebenarnya membantu guru mengukur sejauh mana siswa memahami pelajaran. Tanpa PR, kita harus mencari alternatif lain yang butuh waktu dan sumber daya,” ujar seorang guru SMP di Makassar.
Sementara itu, kalangan orang tua juga menunjukkan perbedaan pendapat. Beberapa orang tua menyambut baik kebijakan ini karena melihat perubahan positif pada anak-anak mereka. Rina (38), ibu dua anak di Bandung, mengaku senang karena anaknya kini lebih rileks dan punya waktu untuk membantu pekerjaan rumah tangga atau bermain di luar rumah. “Dulu tiap malam selalu drama karena PR. Sekarang anak-anak lebih ceria,” katanya.
Namun, kekhawatiran tetap muncul, terutama dari orang tua yang menganggap PR sebagai sarana disiplin dan tanggung jawab. Beberapa orang tua bahkan berinisiatif memberikan PR mandiri kepada anak-anak mereka di rumah, berupa latihan soal atau membaca buku, agar kebiasaan belajar tetap terjaga.
Evaluasi Awal Dan Prediksi Masa Depan Sistem Tanpa PR
Evaluasi Awal Dan Prediksi Masa Depan Sistem Tanpa PR, uji coba sekolah tanpa PR mulai menunjukkan hasil yang patut di cermati. Tim evaluasi dari Kemendikbudristek bersama sejumlah universitas telah mengumpulkan data awal berupa hasil asesmen formatif, tingkat kehadiran, laporan psikologis siswa, serta wawancara dengan guru dan orang tua.
Hasil sementara menunjukkan adanya peningkatan dalam indikator kesejahteraan siswa, seperti kualitas tidur, antusiasme ke sekolah, dan keterlibatan dalam aktivitas kelas. Di beberapa sekolah percontohan, guru mencatat adanya peningkatan kreativitas dan kerja sama antarsiswa karena banyak kegiatan di lakukan secara kelompok di kelas.
Namun, dari sisi akademik, hasilnya masih bervariasi. Beberapa sekolah menunjukkan stabilitas atau peningkatan nilai ulangan harian, sementara yang lain mencatat penurunan kecil pada siswa yang sebelumnya sangat bergantung pada PR sebagai latihan tambahan. Oleh karena itu, pendekatan adaptif sangat di anjurkan selama program ini berlangsung.
Kemendikbudristek merencanakan evaluasi komprehensif pada akhir tahun ajaran. Evaluasi ini akan mencakup kuantitatif (nilai akademik, absensi, durasi tidur siswa, dsb.) dan kualitatif (testimoni siswa, guru, orang tua). Hasilnya akan menjadi dasar apakah program ini akan di perluas ke seluruh Indonesia, di modifikasi, atau di hentikan.
Salah satu kemungkinan yang di kaji adalah opsi “PR fleksibel”, di mana tugas rumah tetap ada tetapi berbasis proyek dan di lakukan sukarela, bukan sebagai kewajiban harian. Model ini memungkinkan siswa untuk tetap belajar mandiri namun tanpa tekanan berlebihan.
Para pakar pendidikan menilai bahwa masa depan sistem pendidikan Indonesia sangat bergantung pada keberanian untuk bereksperimen dan terbuka terhadap perubahan. Uji coba sekolah tanpa PR menjadi momentum untuk merefleksikan kembali filosofi pendidikan nasional: apakah kita. Mendidik anak-anak untuk mengejar nilai, atau menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat?
Apapun hasil akhirnya, eksperimen ini menandai babak baru dalam sejarah pendidikan Indonesia. Sebuah langkah berani yang menempatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup siswa sebagai inti dari proses belajar dari Sekolah Tanpa PR.