Site icon BeritaViral24

Rupiah Menguat Seiring Lemahnya Data Ekonomi Amerika Serikat

Rupiah

Rupiah Menguat Seiring Lemahnya Data Ekonomi Amerika Serikat

Rupiah Indonesia Mengalami Penguatan Seiring Rilis Data Ekonomi Amerika Serikat (AS) Yang Menunjukkan Tanda-Tanda Perlambatan. Penguatan ini juga mendapat dukungan dari komitmen Bank Indonesia (BI) dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global.

Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rupiah berhasil menguat sebanyak 36 poin atau 0,21 persen menjadi sekitar Rp16.784 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.820 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap indikasi pelemahan fundamental ekonomi AS yang memicu aksi jual dolar. Sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah justru menguat.

Menurut analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, penguatan Rupiah terjadi karena dolar AS kembali mengalami sell-off. Setelah data ekonomi AS di rilis lebih lemah dari perkiraan pasar. Hal ini memberikan tekanan terhadap nilai tukar dolar. Sehingga rupiah dan beberapa mata uang Asia lainnya tampil lebih kuat di pasar valuta asing.

Bagaimana Data AS Mempengaruhi Rupiah

Sentimen negatif terhadap dolar AS di picu oleh beberapa indikator ekonomi terbaru dari AS, terutama Purchasing Managers’ Index (PMI) yang mencapai 51,9, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang menyentuh angka 52. PMI ini sering di pakai sebagai indikator awal aktivitas sektor manufaktur dan jasa. Serta sering menjadi acuan pelaku pasar global dalam menilai kekuatan ekonomi suatu negara.

Selain itu, ekspektasi inflasi konsumen AS juga berada di bawah dugaan pasar, yakni sekitar 4 persen di banding perkiraan 4,2 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap permintaan dan daya beli di AS. Yang kemudian memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Data ekonomi AS yang melemah menimbulkan ekspektasi pasar bahwa The Fed mungkin akan menunda. Atau bahkan menurunkan suku bunga acuan untuk merangsang pertumbuhan. Ketika prospek suku bunga tinggi mereda, permintaan terhadap dolar AS sering kali menurun. Sehingga nilai tukar dolar melemah dan memberikan peluang bagi mata uang lain untuk menguat termasuk rupiah. Fenomena serupa pernah terjadi pada beberapa kesempatan sebelumnya ketika data ekonomi AS melemah mendorong rupiah menguat.

Peran Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas

Penguatan mata uang ini tidak hanya di pengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh upaya Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar domestik. BI secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar spot maupun pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Guna meredam fluktuasi tajam yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya telah menegaskan komitmen bank sentral untuk mendukung nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. BI meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat, di dukung oleh cadangan devisa yang memadai dan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap positif.

Dengan cadangan devisa yang masih kuat, BI memiliki ruang untuk terus melakukan intervensi pasar demi meminimalisir volatilitas nilai tukar rupiah. Terutama dalam menghadapi sentimen global yang dapat berubah dengan cepat, seperti kondisi data ekonomi AS terbaru.

Prospek Nilai Tukar Rupiah ke Depan

Meski Rupiah mencatat penguatan di awal minggu ini, analis pasar memperkirakan nilai tukar masih akan bergerak dinamis ke depan. Faktor eksternal seperti data ekonomi AS, kebijakan suku bunga The Fed, serta kondisi geopolitik global akan terus menjadi faktor penting dalam menentukan arah rupiah. Sentimen positif dari data AS yang mengecewakan dapat mendorong penguatan. Namun sebaliknya kondisi yang membaik di Negeri Paman Sam dapat kembali memperkuat dolar AS sehingga memberi tekanan pada rupiah.

Secara teknikal, rentang kurs rupiah di perkirakan berada di kisaran Rp16.750 sampai Rp16.900 per dolar AS. Tergantung pada sentimen pasar serta data ekonomi terbaru, baik domestik maupun global yang di rilis dalam beberapa waktu mendatang.

Exit mobile version